In Way

Kita dalam Biduk yang Sama

Ketika Pendemi Datang

Apiknews.com – Tiba-tiba saja viral di media sosial video kondektur bus menagih sewa mendistribusikan karcis, lalu menanyakan kota tujuan penumpang, padahal tak ada penumpang di bus itu. Kemudian dalam peristiwa di sebuah warung makan, pelayan bertanya mau makan/minum apa, aksinya cukup profesional meski tak ada yang datang ke warung. Dalam video lainnya tukang parkir berteriak-teriak memberi komando sambil menggerak-gerakan tangannya, adakah mobil yang di parkir? Jelas tidak, bahkan di jalan raya itu juga terlihat si tukang parkir duduk santai di pinggir jalan raya.

Kemana perginya keramaian? Kemana perginya riuh rendah? Kemana hilangnya aktivitas? Dunia terasa sepi, tukang parkir hanya beraksi. Tukang parkir mencoba membunuh sepi. Tukang parkir kehilangan rezeki, hatinya galau seolah bermimpi. Ketika hari tak lagi pagi, mungkin bibirnya belum sesuap dihinggap nasi. Kondektur bus? Entahlah, apakah busnya masih saja parkir disana sedari pagi? Atau sejak seminggu yang lalu, atau sejak sebulan yang lalu? Juga entahlah. Jangan juga tanya si pemilik warung, apakah di meja kasir kalkulatornya masih rajin bekerja? Atau malah sudah berhari-hari teronggok saja di sudut meja?

Sesuatu yang dilihat biasa-biasa saja beberapa waktu yang lalu, sekarang terasa menjadi tidak biasa. Cara menarik sewa kondektur bus, cara bertanya pelayan warung makanan, cara tukang parkir menggerak-gerakan tangannya atau kalimat spesifik “maju-mundur, kiri-kanan, geser dikit” sekarang adalah sebuah kemewahan bagi mereka. Mewah berarti juga mahal dan langka. Lalu ketika mereka tak mampu lagi memenuhi harapan keluarga, tak ada lagi yang bisa dibawa ke rumah kecuali tangan hampa, maka mereka berimajinasi. Mereka berbuat seolah-olah, membayangkan kesibukan masih ada, membayangkan dunia masih seperti biasa. Maka ditumpahkanlah segala galau ke dalam sebuah video, miris bercampur ironi, mereka tau bahwa video itu hanya hiburan sesaat, sekedar menghibur diri.

Hampir semua sektor terdampak, sektor mereka hanya salah satu diantaranya. Pandemi telah meluluhlantakan harapan, pandemi telah membuat lelah. Tapi yakinlah harapan masih ada, ada karena memang yang berpunya harusnya mengulurkan tangan bagi yang tak punya, sesuai kesanggupan masing-masing. Dan kita semua barangkali termasuk yang meyakini bahwa sudah lumayan banyak yang bergerak tanpa cerita tanpa media, bantuan dalam senyap. Semoga bantuan mengalir terus, makin banyak dan makin banyak. Karena kita dalam satu biduk yang sama, saatnya membuka mata. Insyaallah ….

Androecia Darwis
(Bgr-Adc, 13.04.20)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button