In Way

Lelaki di Batas Tawa

Oleh Androecia Darwis

Apiknews.com – Priiiit,…! Bunyi sempritan itu berasal dari peluit petugas. Dan lelaki itu mengemudi pelan, pedal gas tak lagi ditekan, wajahnya pucat. Perlahan mobil ke pinggir menepi. Darimana petugas ini muncul? Dibenaknya berputar ribuan tanya, dia tak merasa melanggar aturan, tidak juga merasa menerabas lampu merah.

Sebelumnya lelaki ini telah pusing, dan sekarang menjadi tambah pusing. Tadi pagi isterinya menagih jatah belanja, anaknya menagih uang sekolah serta yang empunya rumah menagih sewa. Sekarang petugas beseragam ini menagih SIM dan STNK mobil, petugas berkata dia menerabas lampu. Lampu? Kenapa harus lampu yang permainkan hidupku, gumamnya.

Tiba-tiba dia teringat lampu PLN, dua hari lagi tagihan PLN akan datang. Hidup makin lama makin tak nyaman. Nun jauh di pelosok pedalaman sana dia bersusah payah bawa omprengan, kali ini dia ke kota membawa sebuah truk. Truk dia saat ini yang sedang membawa hasil bumi, telah beberapa kali dicegat petugas. Entah resmi entah tidak, entah apalah. Semuanya merasa berhak dapat jatah

Lelaki itu masih bersimbah keringat. Usai mengganti ban, tak lama dicegat. Kali ini masalah lampu lalu lintas, terkadang dia berpikir makna warna: “Apa sih guna merah kuning hijau itu?” Rasanya dia belum buta warna, sejak kapan hijau berubah merah? Lalu, petugas muncul menyemprit, petugas berdiri di tempat yang tak jelas. Bahkan menurutnya tak mungkin melihat perubahan warna lampu. Lalu mengapa dirinya dinyatakan melanggar?

Lelaki itu masih tak habis pikir. “Anda ditilang” petugas menegaskan. Lelaki itu tak bereaksi, dia sudah habis. Betul-betul habis, tak ada lagi dana dan tak bisa lagi bernegosiasi, akibatnya semua jalan damai telah tertutup. Baginya dunia mulai gelap, banyak bintang. Bintang itu berputar. Menari dikepala. “Tilang?” Ulangnya. Wajah marah majikan terbayang, karena barang tak kunjung sampai.

Sebentar lagi hasil buminya busuk, sepanjang perjalanan dia disiksa. Sepanjang hayat dia menderita, dan petugas-petugas itu tertawa. Lelaki itu makin sempoyongan, diapun ingin tertawa, dan tersenyum. Mulutnya tak sadar berkata, bersiul dan bernyanyi: “burung kutilang”. Tubuhnya menari, berlari, kesana kemari. Tawanya makin kencang, mengkhawatirkan. Duh getirnya, tagihan demi tagihan? Dia tertawa, mobil truk itu dibiarkannya saja. Gerak tubuh tak lagi terkontrol. Langkah kaki berjalan entah kemana.

Seminggu berlalu, dia di jalan raya. Tawanya masih ada dan nyata ceria, namun singlet dan baju sudah tiada. Hanya tinggal celana yang kedodoran, dia terus saja tertawa dan bernyanyi: “burung kutilang” katanya. Seminggu yang kedua juga berlalu, senyum dan tawa tetap masih ada. Tapi makin dekil serta asesoris tubuh banyak yang sudah tiada, termasuk celana kehormatan terakhir. Kini dia telanjang, berjalan di jalan raya. Dia masih bergumam: “burung kutilang”

Seminggu yang ketiga berlalu sudah, dia masih tertawa, dengan tubuh kurus. “Burung kutilang” katanya berulang, entah sampai kapan dia tertawa. Dulu dia di atas roda di jalan raya, sekarang dia sendiri berjalan di sana sambil bernyanyi: “burung kutilang”. Oh lelaki itu, betapa sia-sianya. Dan para petugas itu masih tertawa, semua tertawa pada sisi yang berbeda. Entah siapa yang ditertawakannya. Entahlah…..!

Balikpapan-Samarinda
14 Agustus 2011

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button