In Way

Oh Suziku Sayang

Androecia Darwis, Pengisi Kolom In Way

Bingung juga awak mau memberi judul yang tepat untuk tulisan ini, karena menyangkut merek dagang sebuah mobil, sebut saja Minivan Suziku APV. Aku memang mendambakan Suziku tersebut, menurutku mobinya keren abis. Apalagi yang warna hitam, mirip mobil Mafioso Itali, serem ya? Mobil tersebut dibeli sekitar tahun 2005, ketika masa-masa akhir bertugas di Medan dan mobil tersebut boleh dikata mobil kebanggaan karena si Suzi Hitam itu, ternyata mampu dibeli tanpa mengandalkan kredit. Maklumlah dua mobil awak sebelumnya yang sudah dilego hasil kreditan melulu.

Selaku Pengawas Bank Senior di Medan awak udah bangga kali dengan si Suzi itu, pagi dilap, dibersihkan dan dirapiin sore dicuci, maklum barang baru, kotor sikit dilap, dicari wewangian yang mantap-mantap hehehe. Di kantor udah terdengar desas desus: “Pak Andro beli mobil baru ya?”. Tetapi lanjutan desas desus itu yang tak enak: “Pengawas Bank Senior mobilnya kok sama dengan satpam?”. Kebetulan BY seorang satpam BI Medan baru saja membeli mobil yang sama, warnanyapun hitam.

Aduh desas desus ini merupakan penghinaan luar biasa terhadap Suziku, yang telah dibeli dengan bersusah payah. Aku bertekad, jangan gengsi dan dengan semangat pantang menyerah atau semangat bushido kali ya, biarkan rumour berkembang? Tetap dengan rasa bangga kubawa mobil itu ke kantor. Suatu kali ngisi bensin pernah salah jalur, karena mobil yang sebelumnya tangki bensin dikiri, kalau Suziku ini dikanan. Syukurlah petugas SPBU tak curiga, khawatir dikira bawa mobil dapet minjam, apalagi kalau dikira bawa mobil curian. Wah bisa gawat urusannya.

Selang beberapa waktu awak mendapat surprise dari Jakarta: “Sdr. Andro dipindah ke Sibolga sebagai Pemimpin Bank Indonesia”. Pemimpin? Tak apalah, jalani saja.. Nah, pastilah Suziku yang hitam manis ikut dibawa serta ke Sibolga. Masa-masa awal di Sibolga dari rumah dinas, kembali kusetir Suziku ke kantor yang jaraknya sangat dekat, tak sampai menghabiskan 5 menit perjalanan..

Tak berjalan lama, kebiasaanku membawa mobil terpaksa berhenti. Kawan-kawan kantor menasehati: “kalau bapak terus bawa mobil sendiri ke kantor sopir akan nganggur dan kendaraan protokoler juga akan nganggur”. Singkat cerita Suziku sayang yang harus nganggur, di garase. Makin lama aku makin menjauh dari Suzi, dan si hitam manis itu tak lagi dimanjakan. Sepanjang hari hanya nongkrong di garase, bahkan karena kesibukan kerja untuk sekedar memanaskan mesinnya saja, awak tak sanggup.

Dan pada suatu ketika persis dihari libur dipagi hari, masih memakai singlet dan celana pendek aku memandang si Hitam Manis Suzi dengan berat hati dan trenyuh. Ternyata pangkat, kedudukan dan jabatan telah membuat jarak diantara kita, tak ada lagi sentuhan mesra ataupun belaian lembut menyentuh ramah tubuh mulusnya. Oh Suzi, mungkinkah dikau marah padaku? Ingat, kaulah kebanggaanku, beli lunas tak pakai kredit, hebat euy.

Waktu berlalu, bulan berganti. Anakku yang sulung berlibur ke Sibolga. Daripada si Suzi dianggurin terus, tiba-tiba daku merasa punya ide:: “ananda, belajar mobillah selama liburan ini, jika sukses bawalah mobil ini ke Bandung tempat dikau kuliah”. Maka tunggang tunggiklah (jumpalitan) si Sulung belajar mobil, mulai dari Puncak GM sampai Pantai Kalangan di Pandan Kabupaten Tapteng dijadikannya ajang latihan. Selesai? Ternyata belum, masih belum mahir bawa mobil dilema muncul karena dilain pihak waktu liburan sudah mau habis.

Mulai dari air aki, air pendingin mesin, oli rem, sampai oli mesin awak ajari fungsinya, termasuk bongkar pasang ban seandainya kempes di jalan. Satu hal yang belum begitu mahir si Sulung lakukan adalah bawa mobil dalam keadaan mundur. Pada saatnya harus berpisah dengan Suzi, diputuskan mobil ke Bandung lewat jalan darat dan si Sulung didampingi oleh sopir senior Zulfahmi Nasution.

Ketika Suzi pergi tanganku melambai, terbebaslah segala urusan dari Suzi nan keren serta hitam manis., selamat berpisah Suzi. Belakangan saya dengar kabar dengan masih memakai plat nomor BK 1359 GR, di jalan tol Jakarta si Suzi menemukan penggemarnya. Sebuah romantisme kedaerahan terjadi, dikiranya sang sopir berasal dari Batak, diklakson oleh sang penggemar (mungkin dari Kabanjahe) sambil senyum dan berkata: “halo tulang” katanya. Hebat ya pesona plat nomor, bisa menjalin silaturahim. Hahaha Suzi (Sembiring) yang hitam manis

Selesai persoalanku dengan Suzi? Ternyata belum., lagi asyik bekerja di kantor datang telepon dari Bandung: “Ayah, ban bocor” Aduh, mati awak., memang tak ada tukang tambal ban di Bandung, setahu awak tukang tambal banyak yang berasal dari Batak. Tapi bagaimana ya? Sulit rasanya mengurus ban bocor dari Sibolga. Bukankah kejadiannya di Bandung? Aya-aya wae.

Masa-masa awal di Bandung memang masa yang sulit bagi si Suzi, telepon berikutnya adalah sebagai berikut: “Ayah bawa lagi mobil ini ke Sibolga, di kos rebutan parkir dan kalau datang duluan dapat tempat di depan tapi mundurinnya repot”. Rupanya ananda takut tak kebagian parkir, kalau terlambat harus parkir diluar, resikonya mobil bisa hilang kalau parkir diluar. Benar juga alasannya.

Dengan kondisi seperti itu, tampaknya si Suzi telah menimbulkan perdebatan diantara saya dan isteri, katanya saya membuat stress anak dengan alasan pertama adalah memaksa si Sulung yang belum mahir membawa mobil, kedua adalah tak ada tempat parkir di kos-kosan si Sulung. Saya tak mau berdebat tapi juga tak mau membawa kembali si Suzi ke Sibolga. Jadi? Cicing waelah.

Dalam suatu perjalanan dinas ke Jakarta awak kembali bertemu dengan si Suzi. Situasinya sungguh sangat berbeda, Suzi yang dulunya cantik berubah kucel. Warnanya yang dulu hitam mengkilap sudah mulai ubanan, karena lecet tergores, baret penyok dan sebagainya, kaca depan sedikit pecah. Aduh Suzi, waktu, jarak dan tempat ternyata mampu mengubah segalanya. Untung AC-mu masih ok, sehingga daku tak kepanasan di jalanan yang macet ini. Suzi apakah dikau ingin berkata sesuatu padaku?

Sekarang tahun 2009, berarti sudah sekitar 4 tahun usia si Suzi, usia yang sedang lucu-lucunya. Pengalaman Suzi sudah cukup matang karena sering berpindah, mulai dari Medan. Sibolga lalu Bandung. Tahun 2008 ananda yang sulung sekolah lagi di UI, tentunya si Suzi ikut ke Betawi. Dan awakpun dah pindah pula dari Sibolga ke Samarinda. Entah mengapa pada waktu perjalanan dinas kemaren ke Jakarta 17 November 2009 daku begitu rindu dengan si Suzi. Di Cengkareng rindu itu terobati, karena Suzi dipakai ananda untuk menjemput ke bandara.

Selesai urusan di Jakarta Suzi saya kendarai sendiri menuju rumah tercinta di Bogor. Bukan main nikmatnya diatas Suzi, kata awak mah melebihi BMW, hehehe. Karena orang daerah yang jarang kena macet, maka semrawutnya kemacetan di jalan tol Jumat sore dinikmati saja.

Sebelumnya awak dah kontak Pak Syukri Andi Yunus Siregar yang berdomisili di Sibolga agar bisa ketemu di Bogor hari Sabtu. Ketika Sabtu datang, paginya Suzi udah dikeluarin dari garase. Bogor sering gerimis, jadi pagi itu agak malas juga membersihkan Suzi, ntar kotor lagi. Awak SMS Pak Syukri: “posisi dimana?” Lalu datang SMS balasan: “on the way ke proyek pak” katanya. Wah takut keduluan Pak Syukri sampai di proyek, saya bersegera ke proyek mendahului beliau.

Sesampainya di proyek Taman Yasmin Bogor, ternyata Pak Syukri belum datang, hari sudah siang perutpun mulai lapar. Sohib kentalku yang tinggal di Taman Yasmin, yaitu Pak Imam Hartono Harahap (sekarang di DKBU) pernah menunjukkan jajanan enak di Ruko Taman Yasmin. Dia sangat kenal dengan daerah itu, karena memang tinggal di Taman Yasmin. Sambil kubawa Suzi berputar kuingat-ingat dimanakah gerangan awak pernah makan bersama Imam?

Akhirnya tempat itu ketemu juga, dalam pantauanku jelas terlihat warung soto mie dan semangkuk soto mie plus nasi yang ditaburi bawang goreng telah menunggu. Didepan warung soto mie Suzi ku parkir, dari jauh kupencet remote, lalu Suzi menjerit kecil: “tit, tit” katanya, setelah itu kejadiannya sangat hebat pintu Suzi terkunci otomatis, hahaha. Ketika makan soto daku berharap: “Mudah-mudahan tak ketemu Imam, kalau kepergok diwarung soto mie ini, biasanya dia minta traktiran melulu”. Segelas air kelapa muda menemani nikmatnya soto mie disiang yang terik itu. Setelah makan penyakit klise muncul, perut kenyang mata mengantuk.

Sambil malas-malasan daku pulang ke proyek lalu mendekat ke Suzi, laluku tersenyum kearah Suzi, laluku buka pintu si Suzi, lalu terperangahlah daku, lalu terdengar suara perempuan tak beraturan di kursi tengah, lalu terbingung-bingunglah awak, lalu suara perempuan itu artikulasinya mulai jelas: “salah-salah katanya”. Lho awakpun kaget, sejak kapan Suzi kesayangan ini ada yang berani naik tanpa izin?” Cakap Medannya : “marah kali aku”. Awak coba masukkan kunci untuk start, belum sempat dihidupkan suara perempuan itu melengking: “salah-salah pak” katanya.

Awak terpana dengan lengkingan itu, tak sengaja tatapanku mengarah kesamping kanan. Dan teka-teki terjawab sudah, Suzi yang asli ada disebelah kanan. Oh makjang, malunya awak. Cepat-cepat awak berkata: “sorry-sorry”. Aduh, kok bisa gini ya? Untung awak tak diapa-apain, jauh-jauh datang dari Samarinda digebuk masyarakat bawa mobil orang apa jadinya?

Ah sudahlah, aku pindah kesebelah, si hitam manis Suzi kuhidupkan kubawa lunglai, oh Suzi kok warnamu bisa sama sih? Lalu kutunggu Pak Syukri di proyek, lalu kurebahkan sandaran kursi untuk tidur, lalu pikiranku menerawang melayang entah kemana, lalu ada yang mengetok-ngetok kaca jendela, lalu muncullah wajah Pak Syukri Siregar.

Untung Pak Syukri dah datang. Tapi pemandanganku tertumbuk pada sebuah mobil dibelakang, warnanya hitam juga, tahun keluarannya sama juga, mereknya sama juga, pemiliknya sama-sama orang BI juga, dan itulah mobil Pak Syukri. Duh Suzi, kenapa kembaranmu terlalu banyak? Tapi tak apalah, kau tetap Suzi kebanggaanku, bukan Suzi kreditan. Minggu 22 November 2009 saatnya kembali ke Samarinda, Ananda yang sulung menawarkan: “Ayah mau diantar ke Cengkareng?” “Of Course” kutimpali, siang itu kami berdua menaiki si Suzi ke Bandara. Bemper depan Suzi berbunyi ngak-ngik-ngok, karena sebelumnya Ananda pernah menabrak gerobak bakso. Kalau dari dalam mobil, bunyi itu tak begitu kedengaran, makanya dibiarkan saja. Sampai di Bandara bemper tersebut sedikit terlepas, lalu Ananda berkata: “Mau diapain ini Ayah?”. “Ntar di rumah ikat saja pakai kawat”, saya menimpali. Ada-ada saja.

(Jalan Raya Balikpapan-Samarinda 22 November 2009).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button