In Way

Renyah untuk Dikunyah

Apiknews.com, – Masih pagi sekali, shalat subuh baru saja usai. Di pelataran belakang masjid harum bau gorengan ubi jalar menggoda selera. Gerimis datang, tadinya ingin bergegas pulang, namun seorang kerabat mengajak rehat sebentar. Duduk santai depan meja, tersedia gorengan ubi jalar, plus yang bewarna ungu. Ehem, tanpa basa basi usai ditawarkan gorengan, kami mulai memanjakan perut. Duh nikmat datang, di saat yang tepat, di saat cuaca dingin datang menyapa tubuh yang kedinginan. Dan para penikmatpun bertambah, seorang lagi kerabat datang ikutan nimbrung. Jadilah pagi itu kami bertiga santai ngobrol sana-sini dengan ceria dalam suasana kekerabatan yang akrab.

Siapakah pembuat gorengan? Tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Sata. Di tangan beliau, semua bisa beda. Bahan boleh sama, tapi hasil belum tentu. Pak Sata adalah petugas masjid, yang selalu ramah dengan senyum. Pengalaman beliau tentang goreng menggoreng tak diragukan lagi, sudah sangat panjang. Maklum, menurut pengakuannya sendiri beliau adalah mantan tukang gorengan. Sudah jamak terjadi, bahwa dengan bahan yang sama, ambil contoh memasak mie instan, hasil akan berbeda. Buku resep makanan banyak tersedia, semua bisa mencoba, tapi “tuah tangan” beda-beda.

Tuah tangan di dapat dari pengalaman dan rasa, kata orang-orang zaman sekarang beliau bekerja dengan passion. Meskipun demikian saya tertarik juga bertanya kepada Pak Sata karena dulu pernah beliau menyajikan gorengan ubi kayu yang juga nikmat. “Pak Sata, apa resep membuat gorengan ubi kayu sehingga enak?”. Tak lama dia berpikir langsung dijawab: “ubi kayu direbus, jangan dikukus, waktu merebus sertakan bawang yang udah di krepek plus garam dan royco. Setelah matang dan tiriskan, langsung digoreng”. Demikian penjelasan beliau. Sederhana bukan? Duhai indahnya berbagi, ini hanya cerita proses, karena soal hasil kembali kepada tuah tangan.

Pagi ini sungguh nikmat makan jajanan asli produk lokal, di tengah kepungan jajanan luar yang menjajah kita. Bahkan hanya untuk sekedar minuman “teh”pun pihak luar sudah merambah kesana kemari yang sebenarnya hanya menang kemasan, menang promosi dan menang etalase. Para pembaca sekalian, di saat menulis ini saya sudah sampai di rumah. Hujan kian deras, sederas harapan semoga kuliner tradisional kita mampu mejeng di etalase negara-negara lain. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti, semua bisa terjadi.

Hujan, gorengan, dan impian, adalah harapan di depan mata. Saatnya bicara yang ringan-ringan saja, karena pagi dalam cuaca dingin kita butuh yang hangat-hangat, bukan yang berat-berat. Cukup cerita gorengan, ntar kalau cerita Jiwasraya, cerita Asabri, cerita Bumiputera, cerita BUMN, cerita PAW itu mah berat, sulit untuk dikunyah tak tertelan bagi gigi tua ini, apalagi untuk dicerna. Lain halnya kalau gorengan Pak Sata, renyah dan nikmat, sehingga gampang untuk dikunyah.

Androecia Darwis
Bogor, 1 Februari 2020

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button