In Way

Selera Humor Sebuah Lip Sync

* Tik-tok, tik-tok, tik-tok

Apiknews.com – Lip sync dikenal juga sebagai sinkronisasi gerak bibir dengan suara yang keluar dari sumber asli, biasanya dilakukan oleh para penyanyi di atas panggung. Tak hanya penyanyi kacangan, bahkan penyanyi papan ataspun pernah melakukan lip sync. Mulai tahun 2000-an sepertinya lyp sinc sudah ada atau malah sebelumnya juga sudah ada, saya tak punya catatan yang pasti. Mengapa mereka memilih lip sync? Tentu mereka yang lebih paham, dan bisa jadi juga tak pede dengan kualitas suara sendiri ketika live.

Kalau tak pede, kita juga paham karena ketika sang penyanyi di atas panggung hanya sekedar memenuhi kontrak, dia harus tampil meski suara sedang serak. Dia harus tetap manggung meski tenggorokan lagi sakit, dia harus kerja karena fans sudah menanti. Celakanya fans tak mau tau dengan kondisi penyanyi, terpaksa manggung atau lagi sakit, mereka tak peduli, tiket sudah dibeli dan akhir kata lip sync adalah pilihan terbaik, semua senang, disana senang disini senang. Promotor tak rugi, penonton berseri, dan penyanyi hepi.

Lyp sinc masa lalu sebenarnya masih sejalan antara yang punya bibir dengan yang punya suara, orangnya masih sama. Hanya saja kalau boleh dibilang ada kekurangan adalah ada sedikit unsur pengelabuan, suara yang keluar bukanlah suara saat itu, artinya gerak bibir adalah pura-pura. Lalu bagaimanakah perkembangan lyp sinc setelah sekian puluh tahun berlalu? Ternyata lip sync sudah merambah terlalu jauh, tidak lagi hanya sekedar mencakup aspek bernyanyi di atas panggung, tapi sudah melebar ke aspek-aspek lainnya, antara lain aspek iseng. Dari keisengan ini, maka kreativitas berubah menjadi jahil alias yang punya bibir dengan yang punya suara bukan orang yang sama.

Dengan aplikasi tertentu, salah satu keisengan yang banyak beredar di media sosial adalah memunculkan suara ulama, ustad dan ustadzah atau sebut saja pendakwah dalam potongan video yang dibuat oleh seseorang yang ingin beriseng ria. Tokoh yang melakukan parodi yang jelas-jelas bukan pemilik suara asli, barangkali punya motif ingin terkenal dengan jalur humor video yang dibuatnya. Materi dakwah dijadikan humor, kemudian mengingat yang diambil adalah penggalan dakwah yang sudah barang tentu tidak menggambarkan ulasan secara keseluruhan, maka yang dimaksud pembuat parodi tercapai sudah, pemirsa tersenyum senang dengan datangnya hiburan gratis di layar hape.

Tetapi benarkah demikian? Benarkah menghibur? Bukankah yang tersirat dari yang dilihat adalah olok-olok? Lalu kenapa dakwah yang dijadikan bahan canda murahan? Yang diminta kepada umat adalah menjalankan pesan moral yang disampaikan, tak ada perintah untuk mereduksi dengan olokan melalui humor video pendek itu. Akhirnya yang dikhawatirkan adalah nada sumbang, ulasan yang seharusnya menjadi pegangan berubah menjadi tertawaan, sekedar candaan, berlalu tanpa kesan, tiada makna. Materi yang seharusnya mulia itu berubah jadi hambar. Apakah itu yang diinginkan? Demikianlah bro atau berbagai pertanyaan ini yang menyasar terlalu lebay?

Waktu terus berlalu dan hari telah larut malam jua, di layar talipon bimbit jam digital menunjukkan angka pukul 23.08 WIB. Pejamkanlah mata, dan tenangkan jiwa. Hayalkan dan dengarlah sejenak jam dinding berdetak, “tik-tok, tik-tok, tik-tok, tik-tok”. Lalu bermimpilah, dan andai pada waktunya nanti malaikat yang bertanya, apakah kita sudah siap? Apa jawaban kita?

Androecia Darwis
(adc-bog-040919)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button